Jalan

untuk seorang yang selalu kutemui di perempatan

“Jalan cerita seseorang siapa yang tahu”

Ia hanya ingin seseorang yang
memanjangkan tangan
untuk meraih wajah bungkus jajan limaratusan

siapa yang sebenarnya lebih tabah
mengasihani pengemis malas atau mencederai kerendahan hati mereka sendiri

Ia selalu memakai topeng orang paling miskin, meminjam baju anak yatim dan bersahabat baik dengan terik matahari dan debu

jika senja tergelincir
Ia menelanjangi sifat rutinan orang miskin
ia bisa berbicara bahkan menertawakan pelanggan yang mengasihaninya

Iklan

Cermin

bisakah kita bercermin pada kaca yang memanipulasi paras kita?

apa cukup menggunakan telanjang mata kita?
ia bisa memberitahu ada kotoran di matamu, ada sisa makanan di gigimu, ada bedakmu yang tidak rata, ada yang rindu di jatuh rambut matamu, ada jerawatmu yang matang.

bahkan ia lebih tahu ada air mata yang kautahan selama beberapa tahun hanya demi menjaga persahabatan, ia lebih tahu ada bulu mata jatuh yg kau simpan diam-diam di ubun-ubun demi isyarat rindu orang-orang yang mencintaimu, ia lebih tahu raut wajahmu ketika mencium bau mulut tapi kau perlahan menjaga jarak.

barangkali ada yang lebih mengenalimu daripada kau sendiri

Kesedihan Kita Bersama

Setiap menjelang ramdhan di desa saya, ada suatu kegiatan gotong royong membersihkan musholla. Semua warga dianjurkan membantu dengan ikhlas dan sebisanya. Kegiatan ini didominasi bapak-bapak sebagai pekerja kasaran dan ibu-ibu sebagai sie.konsumsi. Sayapun tak mau absen, bisa dikatakan sie.perlengkapan yang bertugas sliwar-sliwer jika ada barang yang alat yang kurang. Bahkan, anak-anak turut meramaikan dengan lari-lari di halaman musholla, anggap saja mereka supporter dan memeriahkan tamu yang ditunggu-tunggu. Semua berperan untuk menyambut datangnya tamu paling istimewa.

Ketika saya antri membeli linggis di pasar. Karena saya sebagai generasi merunduk yang kaffah, nunggu dikit ajaa buat buka gawai. Saat itu saya mengecek status whatsap mantan bos saya “Puji syukur, saya dan keluarga aman. Mari kita doakan teman-teman yang terkena musibah”. Dalam hati, tumben bos saya ini updet lho. Padahal blio tipe-tipe pelit updet status, jika emang penting banget. Biasanya terkait seminar yang blio jadi narasumber atau kegiatan sosial yang akan diikuti. Tanpa jeda lama grup watsap mulai ramai dan tenyata ada bom di gereja santa maria tak bercela. Hati saya bergetar, menarik napas panjang. Saya syedih. Bagaimanapun jika ada gereja yang di bom pasti agama saya yang akan tertuduh.

Seketika memutar memori saya. Satu tahun lalu, saya hidup di surabaya. Karena tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, saya memutuskan untuk kerja part time di suatu klinik yang ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil.
Banyak pertimbangan untuk mengiyakan pilihan saya. Apalagi masalah ibadah karena bos saya adalah seorang non muslim. Beliau seorang katolik yang taat. Saat wawancara beliau menanyakan waktu sholat yang wajib saya kerjakan. Saat itu sekitar jam 17.30-18.30-an. Ternyata bos saya punya toleransi sangat tinggi. Beliau mengizinkan sholat, bahkan merekomendasikan masjid di dekat klinik jika ada customer dalam perawatan.

Suatu hari, bos saya belum datang. Saya sholat di dalam klinik, di pertengahan sholat saya, beliau datang dan menunggu di ruang tunggu dengan customer lain sembari menunggu sholat saya selesai. Sampai saya gak enak sendiri. Malah kadang kalo saya ndak sholat gitu sampai diintrogasi kok belum sholat. Kan namanya cewek kan ada yangg bolong kan gais hehe. Kalo perawatan sampe lama gitu, gpp izin ngecut untuk sholat dulu.

Ketika ramadan seperti inipun, biasanya beliau menelatkan diri ke klinik agar saya bisa berbuka puasa terlebih dahulu. Padahal kalo masalah profesonalisme duh, saya sering ditegur karene telat hehe. Soalnya saya suka tepat waktu eh lebih tepatnya mepet waktu sih. Kan sayang kalo terlalu rajin trus di klinik ga ngapa-ngapain?

Dan tibalah saat itu idul fitri, seluruh keluarga bos saya mengucapkan selamat idul fitri kepada saya. Memberi parsel lebaran dan angpau. Sampai saya sungkan sendiri ketika tidak mengucapkan selamat natal saat mereka merayakannya. Saya termakan doktrin larangan mengucapkan selamat natal yang katanya kafir. Saya jadi berfikir apa definisi kafir menurut mereka? Bagaimana mengucap selamat natal bisa kafir? Ketika hati masih teguh mengakui tuhan itu Allah dan Muhammad adalah RasulNya. Yawla tingkat iman saya kok semenyedihkan ini?

Saat itu malam natal, (saya masih belum diliburkan) saya mendengar khotbah versi mereka. Jarak gereja-klinik sekitar 20 meter. Sehingga jika ada acara besar saya agak jelas mendengar khotbah mereka. Saat itu ceramah tentang kemanusiaan. Begitu adem. Saya tak ingat detail apa yang dibicarakan, tapi intinya anjuran untuk saling merekatkan tali persaudaraan. Tak ada pengingkaran sama sekali apa yang saya dengarkan. Bahkan kidung-kidung yang dinyanyikan begitu merdu dan menyenangkan.

Tapi pagi itu saya terluka, syedih, bergetar dan lemah melihat status whatshap mantan boss saya dan tiba-tiba grup ramai akibat ledakan bom di gereja santa maria tak bercela. Diikuti dua bom di gereja lain dan mapolresta surabaya. Berita duka berkali-kali ditayangkan.

Saat kita sebagai muslim semangat untuk menyambut ramadhan dan menyiapkan segalanya dengan paling baik. Tapi mengapa saudara kita masih disorientasi terhadap kepercayaan yang dipilih. Mereka tidak sadar imajinasi surga yang akan mereka dapat, tapi melukai banyak saudaranya. Berapa orang yang meninggal, bagaimana keluarga yang ditinggalkan, berapa banyak kerugian yang ditimbulkan, berapa banyak cacat fisik yang tak bisa digantikan dan sebagainya. Pelaku teror menganggap bisa membela Tuhan dengan kekerasan/aksi terror.

“Al Hujwiri mengatakan: Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau sudah kafir. Allah tidak perlu disesaki kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya”

Marhaban ya ramadhan, semoga kita bisa hidup berdampingan dengan damai.

Suatu pagi..

suatu pagi
ia akan tergesa-gesa berangkat kerja
lalu pulang terlambat

ia hanya ingin punya jalan rahasia
yang akan dikuasai
untuk kepentingannya sendiri
meski alasan klise yg digunakan untuk menjaga harga diri

ia hanya ingin berbicara
kepada setiap yang bernafas dan bergoyang
lalu mengajak bernyanyi
dengan suara parau
yang ia punya

suatu pagi,

tak ada yang istimewa
tak ada yang peduli..

Melihat Jibun Lebih Dekat

Di desa saya, dari dulu selalu rame kalau ada pentas Jibun (tentu saja cara membacanya jibon ala wong ndeso ya). Meski tanpa selebaran khusus seperti pamflet, banner, ataupun broadcast ala generasi mileneal tapi kekuatan penyampaian mulut ke mulut masih sangatlah kental, cepat, melejit dan distribusinya merata. Bahkan, tetangga desa saja sudah berkasak-kusuk. Sampai heran sendiri saya, pas saya dicegat mau berangkat lihat pentas jibun sama rombongan yang mau mengikuti pengajian umum di tetangga dusun, saya saja gak tau. Tapi, kalo Jibun, tetangga desapun sudah tahu sendiri.

Apasih yang membuat pentas jibun begitu istimewa dan mendatangkan banyak penggemar?

Suatu hari, karena rasa penasaran yang saya tidak bisa dibendung, saya terpaksa memperlihatkan sisi katrok saya atas ketidaktahuan saya tentang siapa itu jibun, kepada tetangga dempet rumah. Saya heran, tetangga dempet saya itu tidak pernah absen jika ada pentas jibun padahal beliau seorang ustadah.

“Jibun itu apa? Kok mesti pada heboh kalau ada jibun?” akhirnya saya tanya seteleh berbasa-basi sedemikian rupa biar kekatrokan saya tersamarkan.

“Lanang macak wedok (lelaki yang berpenampilan perempuan)” jawabnya singkat padat seperti sesuatu yang tak patut untuk ditanyakan.

Secara reflek otak saya menerima kalo jibun adalah sinonim dari banci, bencong, waria dan sejenisnya. Konon katanya pentas jibun hanya menonjolkan bentuk tubuh yang direkayasa sedemikian rupa. Sehingga bisa menonjol depan dan belakang. Sambil nyanyi-joget dangdut humor tapi kalo menurut saya lebih ke teriak-teriak manjah petjah. Menurut kesaksian pebri, soorang bocah 10 tahun yang sering menonton pentas Jibun, “pas iko mbak cik, Jibun ndelodok, mosok kutang’e diplorot trus diawut-awutno (saat itu, Jibun bertingkah tak semestinya, melepas beha dan dimain-mainkan di udara)”.

Weekend kemarin, akhirnya saya memutuskan melihat secara live pentas Jibun yang ditanggap oleh tetangga saya. Sebenernya tidak ada niatan apalagi sebersit hasrat menonton pentas Jibun. Apa yang bisa saya tonton dari waria yang joget-joget tidak jelas. Ketika menyanyikan sebuah lagu juga bad listening. Kan mending nonton k-drama sambil termehek-mehek sendiri di dalam kamar, sambil belajar how to make penonton indonesia bahkah dunia merasa tercyduk air matanya oleh k-drama. Mending lagi jika anda memang bener tergolong orang-orang soleh atau solikhah coba dengerin murottalnya mas Muzammil Hasbalah atau mbak Nabila Abdurrahim deh.

Tapi setelah saya tinjau ulang sikap saya yang sungguh tidak pancasialis, yakni dalam sila kedua—kemanusiaan yang adil dan beradab. Saya mencederai identitas sosial saya. Saya melupakan butir menjaga silaturahim dengan tetangga apalagi depan rumah pas. yakan gak enak, doi udah bayar mahal pentas Jibun itu, saya cuma jadi penontonnya masak gak mau. Saya juga gak mau dianggap tetangga durhaka karena perkara remeh temeh ini, yang biasanya menimbulkan sikap tidak saling menyapa dalam jangka yang lumayan lama. Betapa lucu ada perpecahan dan pemandangan canggung disebabkan tidak menghadiri undangan melihat pentas Jibun?
Nah ternyata pemahaman saya masih dalam tahap nakiroh. Jibun itu nama salah satu personil pentas warianya. Terbukti ketika pentas saat itu, banyak orang yang kecewa. Ternyata bukan Jibun. Lha saya ya kaget perasaan tadi yang saya lihat kan, Jibun. Meskipun saya minus, tapi kalo melihat manusia dengan jarak lumayan deket ya gak sebegitu ngeblurnya. Setelah saya tanyakan ke mbak Ninik, tetangga saya yang jarang sekali melewatkan pentas ini. “Jibun di penjara karena terjerat kasus narkoba” tuturnya. Terlihat kekecewaannya yang begitu dalam kehilangan idolanya untuk waktu yang lumayan lama.

Tapi apakah menanggap seperti ini juga banyak dosanya karena mendatangkan mudorot? Bagaimanapun Jibun and friends ini mencari uang. Mereka juga punya hak yang sama dengan warga lainnya, sesuai UU No. 39/1999 tentang hak asasi manusia. Kajian postmodern menilai fenomena waria dengan mengkaitkan pada suatu konsep yang menandai adanya feminisme yaitu dimana kelahiran bukan sebagai suatu hasil akhir seseorang mengidentifikasikan dirinya, namun identifikasi itu pada dasarnya lebih kepada suatu pilihan.

Siapa sih yang mau mempermalukan diri sendiri bahkan di bodohi di di depan khalayak umum? Siapa sih yang mau adu goyang bahkan disawer—diselempitkan uang receh di tetek oleh sesama jenisnya? Bagaimanapun saya kagum akan totalitas mereka menghibur banyak orang. Terbukti ketika mereka jungkir balik bahkan megal-megol yang bikin backsound penonton makin geboh dan teriak manjah. Saya memperhatikan para penonton yang melupakan beban hidup yang semakin berat. Bagaimanapun biarlah mereka bahagia meski dengan mempermalukan orang lain. Biarlah mereka melupakan sejenak kemiskinan dan penderitaan yang selalu bermukim di rumah mereka. Biarlah mereka melupakan lelah mereka menjadi buruh yang tak sepadan dengan kinerjanya. Biarlah mereka berbahagia dengan cara mereka sendiri.

Banyak cara hidup dan pilihan, tapi itulah yang selalu dilakukan pekerja seni seperti mereka. Mungkin bayaran tak seberapa. Mereka hanya butuh membahagiakan sesama dan memanusiakan kita semua.

Senyuman Manis

untuk cicik emha

di cafe ini
aku masih ingin
kita duduk duduk saja
tanpa memesan apapun lagi
juga seorang yang lain
yang kita tunggu
tapi benar-benar tak aku inginkan.

alangkah asing duduk di bangku ini
udara meruncing
menembus kulitku yang tipis
menyaksikan ketakutan yang tertukar.

aku yang ingin pergi
kau yang masih ingin tinggal.

kata katamu semakin dingin
dan menusuk dagingku.
“tlah kutemukan senyuman yang paling manis di bumi bajingan ini”

katamu yang hati-hati
tanpa menatap mataku.

Surabaya, Juli 2017

Tempe

beberapa tahun lalu
kita pernah sepakat

tempeku adalah tempemu.
tempemu adalah tempeku.

untuk saat ini saja, biarkan saja aku menyentuh tanah rumahmu yang menyimpan daun gugurnya. celakanya daun itu, terbawa angin dan mengalir di sungai depan rumahmu. dalam juga.

aku ingin meraba cat rumahmu yang mulai usang, beberapa bagian terlihat mengelupas dan terlihat kapurnya. menyerupai lukisan van gogh kata seniman itu.

aku ingin mencium semerbak tai kambing ditengah percakapan kita; sambil mengunyah kripik tempe dan mengingat rasa tempe yang dulu kita bagi.

aku ingin duduk bercengkrama di sofa yang tak lagi menopang pantatku. tapi aku suka duduk disitu. menjadi stranger yang tak tahu diri. lalu memeluk kenangan kita.

Surabaya, Juli 2017