Senyuman Manis

untuk cicik emha

di cafe ini
aku masih ingin
kita duduk duduk saja
tanpa memesan apapun lagi
juga seorang yang lain
yang kita tunggu
tapi benar-benar tak aku inginkan.

alangkah asing duduk di bangku ini
udara meruncing
menembus kulitku yang tipis
menyaksikan ketakutan yang tertukar.

aku yang ingin pergi
kau yang masih ingin tinggal.

kata katamu semakin dingin
dan menusuk dagingku.
“tlah kutemukan senyuman yang paling manis di bumi bajingan ini”

katamu yang hati-hati
tanpa menatap mataku.

Surabaya, Juli 2017

Iklan

Tempe

beberapa tahun lalu
kita pernah sepakat

tempeku adalah tempemu.
tempemu adalah tempeku.

untuk saat ini saja, biarkan saja aku menyentuh tanah rumahmu yang menyimpan daun gugurnya. celakanya daun itu, terbawa angin dan mengalir di sungai depan rumahmu. dalam juga.

aku ingin meraba cat rumahmu yang mulai usang, beberapa bagian terlihat mengelupas dan terlihat kapurnya. menyerupai lukisan van gogh kata seniman itu.

aku ingin mencium semerbak tai kambing ditengah percakapan kita; sambil mengunyah kripik tempe dan mengingat rasa tempe yang dulu kita bagi.

aku ingin duduk bercengkrama di sofa yang tak lagi menopang pantatku. tapi aku suka duduk disitu. menjadi stranger yang tak tahu diri. lalu memeluk kenangan kita.

Surabaya, Juli 2017

Mencuci Mata

aku suka membayangkan sesuatu
ketika kulihat matamu
rindu dendam yang kau simpan
tercurahkan padaku.

aku suka bercermin dengan matamu
seperti di depan kamera selfie expert
aku jadi lebih cantik
seperti di depan anakku
aku jadi lebih pintar.

aku pamit ingin mencuci mata sebentar
kalimat terakhir sebelum kau lupa menyalakan kesedihanku.

Surabaya, Juni 2017

Aku Ingin Berdua Denganmu

aku hanya ingin berdua denganMu
tanpa memikirkan apapun,
warna apa sajadah yang afdhol untuk menemuiMu,
parfum apa yang bisa mengingatkanMu padaku,

tanpa mengingat siapapun,
siapa yang mengambil sandalku pagi ini,
siapa yang menyapaku di jalan tadi,
siapa yang datang di mimpiku semalam?

tanpa mendengar apapun,
lagu versace on the floor kesukaanku,
gemericik air buatan,
deras dan rintikan air hujan,
kemeresek tv yang hampir rusak,
notifikasi ponsel pintar,
panggilan namaku,
detak jarum jam,
nginging nyamuk,
deru kendaraan,
lantunan ayat sucipun.

tanpa menghitung apapun,
berapa tafsiran harga barang setelah diskon 20%,
berapa ganjaran pahala setelah jungkir balik sholat maktubahMu,
berapa hutang si fulan itu padaku?
berapa banyak aku hutang budi kepada si fulan?

tanpa merencanakan apapun,
setelah ini aku ingin makan apa,
mau mengatakan apa,
mau melukai siapa lagi,
mau berjuang untuk apa?

tanpa mengeluhkan apapun,
orang-orang yang selalu menjadikan dirinya lidah,
orang-orang yang selalu menjadikan dirinya mata,
tanpa melihat kulitnya,
dan menutup telinganya.

aku hanya ingin berdua denganMu
sebentar saja
tanpa penganggu
tapi tidak bisa.

pikiranku masih kemana-mana
jika aku bersamaMu.

Aku ingin berdua saja denganMu
tanpa memikirkan menuliskan ini.

Surabaya, April 2017

Prioritas

โ€‹tiada waktu yang berkurang
untuk membagi perhatian
pada seorang yang kita cintai

tiada kelakuan yang menyibukkan diri
bahkan meluangkan diri

jika memang aku bukan prioritasmu
tanyakan pada dirimu
mengapa kau repot-repot menyanjungku
dan menerbangkan kupu-kupu di jantungku?
mengapa kau kuasai hawa dingin
tuk mengerahkan panas di jari-jariku?

untuk apa kau membuang waktu
jika ingin lebih lama berbicara denganku?

jawab dengan hati-hati
di dalam hatimu
mengapa kau memanggil orang lain dengan namaku?

Mojokerto, 11 Maret 2017

Belajar Cara Menghitung Anak

cara menghitung anak abu wafa
Antologi Cara Menghitung Anak (Abu Wafa)

Membaca judul bukunya saja sudah menimbulkan banyak tafsir. Cara Menghitung Anak. Dalam terawangan saya, buku antologi semacam tentang seksualitas atau bahkan semacam kampanye dua anak cukup. Ya puisi sejenis itu sudah menjadi sangat komsumtif sekali.

Bahkan teman-teman saya yang lihat saya baca ini juga ikut menyengirkan dahi. Piye carane tul? Ajarin tul. Malah tak bales gini โ€œWes wocoen sek, aku tak turu sek hahaโ€œ. Beberapa temen yang sekelas, setelah baca judulnya aja, trus main hitung-hitungan anak, persis seperti yang dituturkan Abu Wafa dalam puisi Cara Menghitung Anak.

Ternyata memang jauh sekaliโ€“apa yang pernah saya terawang, setelah saya membaca ulasannya. Eh, tentang dunia anak, tapi bukan untuk puisi anak. Why we so serious about the title? Alhamdulillah sempet mempercayainya setelah akhirnya bisa memilikinya dan membacanya. Lanjutkan membaca Belajar Cara Menghitung Anak

Terlalu Jauh

seseorang meyeretku mundur
satu jarak dibelakangmu

lewat bisikan semesta
juga beberapa pertanda yang jelas
apa aku terlalu egois
jika pura-pura tak memahaminya?

kita terlalu cemas dalam beberapa hal
isu politik, kemanusian bahkan perpisahan

mengapa kita merasa terlalu jauh
padahal kita akan sampai?

pada akhirnya,
kita hanya orang asing
yang pelupa terhadap banyak peristiwa~

Surabaya, 23 February 2017