October Rain

September lalu, seorang penyair meminjamkan kukila padaku. Aku selalu penasaran tentang kukila; perempuan pembenci September dan pohon mangga.

Meminjam kumcer memang bukan suatu yang dianjurkan oleh penulisnya, tapi setidaknya kesedihan dalam buku ini tidak seluruhnya aku hisap. Sebab, aku selalu punya tanggungan untuk mengembalikan ke pemiliknya.

Seperti Kukila, aku juga membenci september. Seperti Rusdi yang tak mau mempertahankan rumah tangga. Kau juga, tak mau mempertahankan hubungan ini—yang memang layak untuk disudahi.

Setelah perpisahan pasti merenggut banyak air mata, aku juga kau dengan caramu sendiri. Seperti kata Aan Mansyur–perpisahan selalu ada hadiah air mata kado kesedihan.

Aku tahu perpisahan ini tiada tanda yang jelas berakhirnya hubungan. Tiada kata putus atau kita selesai. Tiada kata klise “aku sudah bosan” seperti orang berpisah lakukan.

Tapi, aku mulai mengerti percakapan kita semakin singkat nan njelimet, yang lebih parah lagi kau mulai lupa mengucapkan good night, Aishiteru wai.

Kita yang punya ketertarikan pada bahasa jepang, kau seorang gakarian dan aku suka j-movie nya yang komedi-romancenya selalu bikin kangen.

Pernah kita saling menulis nama pada sebuah kanvas, pasir, bahkan di hati masing-masing.  Tapi sekarang kita harus saling menghapus. Juga beberapa file jpg yang menceritakan tentang kenangan kita.

Pernah kita saling bertukar budaya, kau yang selalu mengunggulkan festival Tabot. Sedang aku tak mau kalah dengan mengunggulkan seni bantengan.

September lalu, Kenapa kau lupa berpamit ketika mulai melangkah pergi. Apakah yang kau tinggalkan, (kau anggap) akan baik-baik saja?

Apa aku harus stalking dan terkejut sendiri untuk melihat status line.mu terganti nama perempuan lain, meski dengan inisial yang sama denganku dan (haruskah) ada emot love menumpuk.

Aku tahu, kau tak ingin mengakhiri apa-apa tentang kita. Tapi, bukankah kita telah selesai membagi duka maupun suka?

Barangkali, kita pernah mengutuk jarak lalu memutuskan untuk saling memahami. Nyatanya kita salah mempercayai jarak.

Mereka bilang “jarak menciptakan ruang rindu” tapi sekarang yang kupahami. “jarak mematikan rindu, untuk menemukan yang ruang baru”

Seindah apapun huruf terakhir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi?–Dewi Lestari

Sudah cukup, kepergianmu yang diam melukaiku.

Malam ini begitu puisi untuk mengenangmu. Besok sudah first October. Kata Aan– Oktober selalu datang membawa butir-butir hujan yang sedih. Seperti bulir-bulir air mata.

Aku juga tak tahu, sekuat apa menanggung seluruh kesedihan di bulan ini-setelah kehilanganmu.

Berbahagialah, mungkin setelah ini kau tak perlu repot menuliskan namaku di perjalanmu. Kau tak perlu kesusahan menghibur segala keluhanku. Kau tak perlu membuat bermacam-macam alasan untuk menemuiku. Kau tak perlu banyak membuat banyak alasan untuk menghindari ajakanku berlama-lama keliling gramedia. Kau tak perlu banyak mengkhawatirkanku lagi. Akupun juga tak perlu banyak bicara untuk mempengaruhi rokok yang kau hisap.

Aku benar-benar lega bisa menjawab misteri diammu. Mengikhlaskanmu mendapat yang (semoga) lebih baik daripada aku.

Mungkin ini waktu yg tepat untuk mengingatmu, sebab kata wiranegara–hujan tidak pernah datang tanpa membawa bingkisan, kali ini mampir bertamu lengkap dengan masa lalu.

Postingan ini diikutkan giveway-nya kak Agung. Cekidot yaa😁

banner giveaway cerita hujan

Diterbitkan oleh

riskiantropus

Part-time writer and lover.

13 tanggapan untuk “October Rain”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s